Minggu, 22 April 2012

KUALITAS AIR YANG BERASAL DARI SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN PENDUDUK DI DESA PASAKA KECAMATAN SIBULUE KABUPATEN BONE TAHUN 2010


KUALITAS AIR YANG BERASAL DARI SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN PENDUDUK DI DESA PASAKA KECAMATAN SIBULUE KABUPATEN BONE TAHUN 2010
Moh. Husni Thamrin*, Andi Alim**, Putteri***
* Direktur Akper Anging Mamiri Makassar
** Dosen FKM UVRI Makassar
*** Dines Kesehatan Kabupaten Bone

Air merupakan komkponen yang paling sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup setelah udara, sekitar tiga perempat bagian tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorang pun yang dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa air minum. Air mempunyai peranan besar dalam penularan penyakit bilamana air yang digunakan penduduk tidak memenuhi syarat yang dperkenankan. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya kualitas air yang berasal dari sarana air bersih yang digunakan penduduk di desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone. Penelitian ini bersifat observasional, yaitu melakukan observasi terhadap sarana air bersih yang akan diambil sampelnya, kemudia hasil laboratorium dianalisa berdasarkan jenis sarana. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa, dari 3 Sumur gali (SGL) ditemukan 2 SGL yang tidak memenuhi syarat MPN Coliform diatas 50/100 ml air sampel, dari 3 SGL semuanya memenuhi syarat dari segi kualitas fisik tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa dengan pH 7,0. dan dari 8 Sumur pompa tangan (SPT) terdapat 2 SPT yang tidak memenuhi syarat MPN Coliform yaitu diatas 50/100 ml air sampel, dan 6 SPT memenuhi syarat MPN Coliform terdapat 50 /100 ml air sampel dan dandri 8 SPT dari segi kualitas fisik tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa dengan pH 7,0. Dari 3 Penampungan air hujan (PAH) semuanya memenuhi syarat baik fisik, kimia maupun mikrobilogis yaitu MPN Coliform 50/100 ml air sampel dengan pH 7,0 dan secara fisik tidak berwarna, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak bersa. Hasil analisa didapatkan bahwa kualitas air secara fisik semua sarana SGL,SPT dan PAH memenuhi syarat: tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa serta kualitas kimia memenuhi syarat: pH 7,0. Dari segi kualitas mikrobilogis terdapat 2 SGL dan 2 SPT yang tidak memenuhi syarat PMN Coliform diatas 50/100 ml air sampel. Oleh karena itu disarankan adanya penyuluhan, inspeksi sanitasi dan pemberian kaporisasi secara rutin pada semua sarana yang digunakan penduduk.

Kata Kunci : Kualitas Air


P E N D A H U L U A N
Latar Belakang
Air merupakan komponen yang paling sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup setelah udara, sekitar tiga perempat bagian tubuh kita terdiri dari air dan idak seorangpun yang dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa air minum. Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65 % dari total berat badannya. Apabila suatu saat tubuh kehilangan seluruh cadangan lemak dan setengah dari cadangan protein dalam tubuh maka hal ini tidak membahayakan bagi tubuh manusia, namun apabila terjadi kehilangan 20% air dalam tubuh maka dapat menyebabkan kematian.

Menurut Notoatmodjo (2003), sekitar 55-60 % berat badan orang dewasa terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80 %. Dalam kehidupan sehari-hari air dipergunakan untuk keperluan minum, mandi, memasak, mencuci dan lain-lain. Selain itu air juga digunakan untuk membersihkan rumah dan kotoran yang ada disekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain.

Air minum yang aman jelas sangat penting bagi kesehatan yang resikonya kini sering diabaikan. Penyebab air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan penduduk karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit. Kalau pada musim kemarau orang kekurangan air maka hal itu sangat wajar, karena pada saat itu air memang sulit diperoleh. Akan tetapi pada musim hujan tidak sedikit masyarakat yang sulit memperoleh air bersih.

Air mempunyai peranan besar dalam penularan penyakit menular. Besarnya peranan air dalam penularan penyakit adalah disebabkan keadaan air itu sendiri sangat membantu dan sangat baik untuk kehidupan mikrobiologis. Air dapat bertindak sebagai tempat berkembang biak mikroorganisme dan juga bisa sebagai tempat tinggal sementara (perantara) sebelum mikroorganisme berpindah kepada manusia.

Untuk menciptakan suatu lingkungan hidup manusia yang bersih dan sehat tanpa persediaan air yang cukup mustahil akan tercapai. Namun demikian terkadang air juga merupakan penyebab timbulnya gangguan kesehatan. Penyakit yang biasanya ditimbulkan oleh air diantaranya adalah penyakit diare / muntaber, kolera, hepatitis A, paratyphoid dan typoid, disentri, demam berdarah, malaria, filariasis, dan penyakit kulit. Oleh karena itu pengawasan kualitas air sangat diperlukan.

Sesuai data yang didapatkan dari Puskesmas Sibulue Kecamatan Sibulue bahwa penyakit yang berhubungan dengan air seperti diare masih termasuk dalam kelompok sepuluh penyakit terbesar di wilayah kerja Puskesmas Sibulue Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone. Seperti diketahui bahwa penyakit diare disebabkan oleh bakteri E. Coli yang berkembang biak di dalam air.

Dalam pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat dibedakan menjadi dua sumber yaitu berasal dari PDAM dan air bersih yang bersal dari sarana air bersih yang lain yaitu Sumur Gali (SGL), Sumur Pompa Tangan (SPT) atau Sumur Bor / Listrik, Perpipaan (PP), Perlindunangan Mata Air (PMA) dan Penampunangan Air Hujan (PAH). Penduduk di Indonesia yang memanfaatkan sarana air bersih mencapai 75 % (Statistik Kesra BPS, 1997). Cakupan Sarana Air Bersih Propinsi Sulawesi Selatan mencapai 78,94 % rencana akhir tahun 2010 akan mencapai 80 % (Laporan Program Kesling Sul-Sel), sedangkan untuk Kabupaten Bone cakupan sarana air bersih tahun 2007 mencapai 68,08 % (Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, 2007)

Indikator pencemaran secara umum bisa dilihat dari air yang berbau, berasa dan berwarna yang disebabkan oleh adanya pencemaran, limbah industri, rumah tangga, pembuangan sampah, septik tank dan lain-lain. Secara kimia air seharusnya bersifat netral dan tidak bersifat asam ataupun basa untuk mencegah pelarutan logam berat dan korosi, pH yang tidak netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya. Sedangkan indikator mikrobiologis dapat ditentukan dengan pemeriksaan MPN Coliform.

Berdasarkan hasil penelitian Rahma M (2007) tentang Studi Kualitas air sumur di Kelurahan Mapala Kecamatan Rappocini Makassar diperoleh hasil bahwa dari 10 sampel air bersih yang diambil 80 % diantaranya tidak memenuhi syarat dari segi kandungan bakteriologis yaitu antara 130 / 100 ml CA sampai ≥ 1898 / 100 ml CA

Sesuai hasil pengumpulan data pendahuluan di Wilayah kerja Puskesmas Sibulue terdapat sarana air bersih berupa sumur gali sebanyak 453 buah, SPT 240 buah, dan PAH sebanyak 45 buah, sedangkan di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue terdapat 14 Sumur Gali (SGL), 55 Sumur Pompa Tanga (SPT) dan 14 Penampungan Air Hujan (PAH). Dari data tersebut terlihat bahwa pada umumnya masyarakat menggunakan sarana air bersih untuk mendapatkan air bersih baik berupa SGL, SPT maupun PAH. Kejadian Penyakit yang berhubungan dengan air berdasarkan laporan Puskesmas Sibulue Penyakit Diare 979 (15,84 %) menempati urutan kedua dari sepeluh jenis penyakit disamping itu terdapat juga penyakit typhus dan disentri meskipun tidak termasuk penyakit sepuluh besar (Laporan Puskesmas Sibulue, 2008)

Dari penelitian Rahma M (2007) tentang studi kualitas sumur di Kelurahan Mapala Kecamatan Rappocini Makassar diperoleh hasil bahwa dari 10 sampel air bersih yang diambil 80 % diantaranya tidak memenuhi syarat dari segi kandungan bakteriologis yaitu anatara 130/100 ml CA sampai > 1898/100 ml CA. Data kualitas air bersih di Puskesmas Sibulue Kecamatan Sibulue 332 (45%) tidak memenuhi syarat kandungan bakteriologis (Puskesmas Sibulue, 2008) maka kemungkinan di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue terjadi kandungan bakteriologis yang tidak memenuhi syarat dengan kejadian penyakit diare sebanyak 44 (2,5%) penderita. Oleh sebab itu peneliti merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana kualitas air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone berdasarkan parameter fisik, kimia dan bakteriologis.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dirumuskan masalah “Bagaimana Kualitas Air yang Berasal dari Sarana Air Bersih yang Digunakan oleh Penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone. “

Tujuan Penelitian
1.     Tujuan Umum
Diketahuinya kualitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone.
2.     Tujuan Khusus
a.     Dikethuinya kulitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone berdasarkan parameter fisik yaitu warna, bau dan rasa.
b.     Diketahuinya kualitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone berdasarkan parameter kimia yaitu pH.
c.     Diketahui kualitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone berdasarkan parameter mikrobiologis yaitu MPN Caliform.

Manfaat Penelitian
Memberi masukan/informasi baru bagi masyarakat tentang bagaimana upaya yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk dan memberi masukan bagi pemerintah dalam melakukan program peningkatan kualitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk

DEFENISI OPERASIONAL DAN KRITERIA OBYEKTIF
Kualitas Air
Kualitas air adalah mutu air yang berdasarkan pada pengukuran Permenkes RI No. 416/ Menkes/ Per/ IX/ 1990 tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih yaitu Mikrobiologi, fisik, kimia, dan radioaktif.

Kriteria obyektif
Memenuhi syarat            : Apabila hasil pemeriksaan air sesuai standar berdasarkan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990
Tidak memenuhi syarat : Apabila hasil pemeriksaan air tidak sesuai standar berdasarkan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990
Parameter Fisik
Kualitas air bersih yang baik dapat dilihat berdasarkan parameter fisik yang terdiri dari warna, bau dan rasa sesuai dengan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih.

Kriteria Obyektif
Memenuhi syarat            : Apabila hasilnya tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
Tidak memenuhi syarat    :               Apabila hasilnya terdapat warna, bau dan rasa.

Parameter Kimia : pH
Adapun pH (power hydrogen) adalah derajat kesamaan air sangat mempengaruhi aktifitas pengolahan dari sumber kehidupan air. Kadar asam dan basa dalam air diukur dengan menggunakan pH komperator hellige baik dilapangan maupun di laboratorium, berdasarkan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih.

Kriteria Obyektif
Memenuhi syarat            :  Apabila hasil pemeriksaan kadar pH air minum anatara 6,5 dan 9,0
Tidak memenuhi syarat    :               Apabila hasil pemeriksaan kadar pH < 6,5 dan > 9,0

Parameter Mikrobiologi yaitu MPN Coliform
MPN (Multi Probable Number) Coliform adalah perkiraan terdekat jumlah bakteri coliform dalam 100 cc air. Dan tujuannya untuk mengetahui berapa jumlah MPN Coliform dalam 100 ml sampel berdasarkan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih.

Kriteria obyektif
Memenuhi syarat            : Apabila hasil pemeriksaan laboratorium terdapat ≤ 50 total coliform per 100 ml sampel air.
Tidak memenuhi syarat    :               Apabila hasil pemeriksaan laboratorium terdapat > 50 total coliform per 100 ml sampel air.
METODE PENELITIAN
Disain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode observasional dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh gambaran kualitas air dari sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone.

Populasi dan Sampel
1.     Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua sarana air bersih yang ada di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone yaitu 14 Sumur Gali, 55 Sumur Pompa Tangan dan 14 Penampungan Air Hujan
2.     Sampel
Sampel dari penelitian ini diambil dengan menggunakan metode proposive sampling yaitu dengan pertimbangan keterbatasan waktu dan dana sehingga sampel diambil dari beberapa sarana untuk mewakili sarana air yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone

Cara Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel menggunakan metode proporsive sampling dengan kriteria sarana air bersih digunakan sebagai sumber air bersih yaitu Sumur gali (SGL), Sumur pompa tangan (SPT) dan Penampungan air hujan (PAH). Sampel diambil dengan cara proporsional dari jenis sarana yang ada yaitu sumur gali (SGL) 3 buah, Sumur Pompa Tangan (SPT) 8 buah dan Penampungan Air Hujan (PAH) 3 buah

Cara Pengumpulan Data
1.     Data Primer
Data primer diperoleh dengan pengambilan sampel air bersih penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone, yang telah ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini, untuk diuji di laboratorium.
2.     Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari kantor Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone dan Puskesmas Sibulue, serta buku-buku literatur.

Metode Pemeriksaan Sampel
Metode pemeriksaan untuk sifat, warna, bau dan rasa dapat dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk sifat kimia, pH dapat langsung di periksa dilapangan atau sampel air dibawa ke laboratorium sedangkan mikrobiologi MPN Coliform pengukurannya dilakukan di laboratorium. Metode pengukuran masing-masing parameter yaitu :
1.     Pengukuran warna, bau, rasa, dengan indra secara langsung
2.     Pengukuran pH dengan menggunakan komparator hellige
3.     MPN Coliform dengan menggunakan multiple tube fermentation (metode tabung fermentasi ganda)

Alat, Bahan dan Cara Kerja
1.     Pemeriksaan secara fisik : warna, bau, rasa
a.     Bahan-bahan          : Sampel air bersih
b.     Cara Kerja               :
1)    Mengambil sampel air pada wadah yang sudah dibilas dengan air yang akan diperiksa.
2)    Sampel air tersebut diperiksa dengan menggunakan indera karena adanya keterbatasan alat yang dimiliki.
2.     Pemeriksaan sifat kimia : pH
a.     Alat-alat                   : Komparator hellige
b.     Bahan-bahan          : Indikator Brom Thymol Blue (BTB)
c.     Cara kerja                :
1)    Bilas tabung dengan sampel air yang akan diperiksa
2)    Isi tabung dengan air sampel sebanyak 10 ml
3)    Tetesi indikator BTB sebanyak 3 tetes
4)    Bandingkan warna sampel dengan warna yang ada dalam lempengan BTB pada komparator
5)    Lakukan pembacaan
3.     Pemeriksaan MPN Coliform
a.     Alat-alat
1)    Pipet ukur
2)    Ose
3)    Tabung durham
4)    Incubator
5)    Autoclave
6)    Lampu spiritus
7)    Balep
b.     Bahan-bahan
1)    Lactose broth
2)    Brilliant Green Lactosa Bile Broth (BGLB)
3)    Aquades
c.     Cara kerja
1)    Tes perkiraan
a)    Siapkan tabung-tabung media laktosa yang diperlukan dalam test perkiraan yaitu 9 tabung bila, 3 x 10 ml, 3 x 0,1 ml. untuk porsi contoh 10 ml gunakan kepakaan media lactose yang sesuai (kepekaan 3 kali).
b)    Tabung-tabung media disusun dalam rak tabung, dan diberi tanda sesuai dengan kode contoh dan porsi contoh yang dipilih, serta tanggal pemeriksaan
c)     Contoh dicampur atau dikocok 25 kali
d)    Dengan pipet steril, masukkan contoh air secara aseptis kedalam tabung-tabung media. volume contoh air yang dimasukkan kedalam tabung sesuai dengan tulisan / tanda pada tabung yaitu 3 tabung media laktosa diisi masing-masing10 ml contoh air, 3 tabung media laktosa diisi masing-masing 1 ml contoh air, 3 tabung media laktosa diisi masing-masing 0,1 ml contoh air.
e)     Untuk porsi : 3 x 10 ml, 3 x 1 ml, 3 x 0,1 ml. (9 tabung)
f)     Tabung-tabung dalam rak digoyang, supaya contoh air dan media tercampur rata
g)     Dieramkan pada suhu 350 C ± 0,50 C selama 2 x 24 jam
h)    Pembentuka gas diamati setiap 24 jam
i)      Semua tabung yang menunjukkan peragian laktosa positif dalam waktu 24-48 jam dinyatakan test perkiraan positif dan dilanjutkan test penegasan
j)      Bila dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas test perkiraan dinyatakan negative, dan tidak dilanjutkan ke test penegasan
2)    Test penegasan
a)    Semua tabung menunjukkan peragian laktosa positif pada test perkiraan dipindahkan 1-2 mata ose penuh ke media BGLB
b)    Dieramkan pada suhu 350 C selama 2 x 24 jam
c)     Pembentukan gas dalam waktu 2 x 24 jam, dinyatakan sebagi test penegasan positif
d)    Bila waktu 2 x 24 jam tidak berbentuk gas test penegasan dinyatakan negative, dan tidak dilanjutkan ke test lengkap (complete Test).
e)     Perhitungan :

MPN =
Jumlah tabung positif x 100
√ ∑ ml sampel yang negative x ∑ ml sampel seluruhnya

Analisis dan Penyajian Data
Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan sampel baik pengamatan dilapangan maupun di laboratorium disajikan dalam bentuk narasi dan tabel serta dianalisis secara deskriptif kemudian dibandingkan dengan standar berdasarkan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Penelitian tentang kualitas air bersih berdasarkan jenis sarana yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 22 Mei 2010. Penelitian ini berupa pemeriksaan kualitas fisik dan kimai air yang dilakukan dilapangan dan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dari sarana air bersih yang dilakukan di laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Bone.

Hasil penelitian ini berupa pemeriksaan kualitas air bersih berdasarkan jenis sarana yaitu parameter fisik, warna, bau, rasa, parameter kimia, pH dan parameter mikrobiologi, MPN Coliform yang disajikan dalam bentuk narasi dan tabel disertai narasi sebagai berikut:
1.     Hasil Pemeriksaan Kualitas Fisik Sarana Air Bersih yang digunakan Penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone Berdasarkan Parameter Warna, Bau dan Rasa.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan diperoleh hasil yaitu : Dari 14 sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue dengan rincian yaitu 3 sumur gali (SGL), 8 Sumur pompa tangan (SPT) dan 3 Penampungan Air hujan (PAH) semuanya memenuhi syarat fisik kualitas air yaitu tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
2.     Hasil Pemeriksaan Kimia Sarana Air Bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone Berdasarkan Parameter pH.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan dengan menggunakan pH komperator hellige diperoleh hasil yaitu : Dari 14 sarana air bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue dengan rincian yaitu 3 sumur gali (SGL), 8 Sumur pompa tangan (SPT) dan 3 Penampungan Air hujan (PAH) semuanya memenuhi syarat kimia air yaitu pH antara 6,7 - 7.0
3.     Hasil Pemeriksaan Bakteriologis Sarana Air Bersih yang digunakan penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Berdasarkan Parameter MPN Coliform.

Pemeriksaan ini dilakukan di UPTD Laboratorium Kualitas Air & Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, diperoleh hasil yaitu: Dari 14 sarana air bersih yang digunakan penduduk di Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone dengan rincian yaitu 3 sumur gali (SGL), 8 Sumur pompa tangan (SPT) dan 3 Penampungan Air hujan (PAH), hasil pemeriksaan seperti table berikut :








Distribusi Hasil Pemeriksaan Sarana Air Bersih Berdasarkan Parameter MPN Coliform yang digunakan Penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone Tahun 2010
Jenis Sarana Air Bersih
Parameter MPN Coliform
Total
Memenuhi Syarat
Tidak Memenuhi Syarat
n
%
n
%
n
%
SGL
1
33,33
2
66,67
3
100
SPT
6
75,00
2
25,00
8
100
PAH
3
100
0
100
3
100
Jumlah
10
71,43
4
28,57
14
100
Sumber : data primer, 2010

Pada tabel diatas menunjukkan bahwa dari 14 buah sarana air bersih yang terdiri dari 3 sumur gali (SGL), 2 (66,67 %) diantaranya tidak memenuhi syarat berdasarkan parameter mikrobilogi yaitu MPN Coliform, 8 sumur pompa tangan (SPT) 6 (75,00%) memenuhi syarat dan 2 (25.00%) tidak memenuhi syarat berdasarkan parameter mikrobilogi yaitu MPN Coliform, dan 3 penampungan air hujan (PAH) semuanya memenuhi syarat berdasarkan parameter mikrobiologi; MPN Coliform

Pembahasan
Parameter Fisik
Berdasarkan hasil penelitian parameter fisik yaitu warna, bau, rasa, semuanya memenuhi syarat baik Sumur Gali (SGL), Sumur Pompa Tangan (SPT) maupun Penampungan Air Hujan (PHA) hal ini sesuai dengan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang persyaratan air bersih yaitu tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Salah satu indikator pencemaran air secara umum dapat dilihat dari air yang berwarna, berbau, dan berasa. ini membuktikan bahwa pencemaran secara umum tidak terjadi pada air bersih dari sarana yang digunakan oleh penduduk yang ada di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone, Hal ini berarti dari segi parameter fisik yaitu warna, bau, dan rasa memenuhi syarat kesehatan. Dari 3 Sumur Gali (SGL), 8 Sumur Pompa Tangan (SPT) dan 3 Penampungan Air Hujan yang diteliti aman untuk dikonsumsi dari segi kualitas fisik.

Parameter Kimia
Pengukuran parameter kimia yaitu : pH menggunakan komparator Hellige dan bahan tambahan yaitu indikator Brom thymol Blue (BTB) hasil penelitian berdasarkan pH pada air dari sumur gali (SGL), sumur pompa tangan (SPT) dan penampungan air hujan (PAH) semuanya memenuhi syarat sesuai dengan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang persyaratan air bersih yaitu pH 6,5-9,0. Dari hasil penelitian ini di dapatkan bahwa air yang diteliti aman untuk dikonsumsi berdasarkan parameter kimia khususnya pH.
Hal yang harus diingat juga bahwa kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada pH 6,0 - 8,0 jadi bukan hanya menguntungkan manusia yang menkonsumsi tapi juga menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang dapat merugikan manusia.

Parameter Mikrobiologi MPN Coliform
Pengukuran parameter mikrobiologi : MPN Coliform uji laboratorium dengan tiga tahap tes perkiraan, tes penegasan, dan tes lengkap (complet test). Hasil pemeriksaan laboratorium berdasarkan MPN Coliform per 100 ml sampel air dari 14 buah sarana air bersih didapatkan 1 sumur gali (SGL) yang memenuhi syarat sesuai dengan Permenkes RI No. 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang kualitas air bersih dimana MPN Coliform yaitu 50/100 ml sampel air, 2 sumur gali (SGL) tidak memenuhi syarat yaitu MPN Coliform diatas 50/100 ml dan 6 sumur pompa tangan (SPT) memenuhi syarat, 2 sumur pompa tangan (SPT) tidak memenuhi syarat sesuai dengan pemenkes dimana MPN Coliform yaitu diatas 50/100 ml sampel air.

Dari hasil yang didapatkan tersebut terdapat sampel air yang diperiksa tidak aman untuk dikonsumsi secara langsung tanpa adanya perlakuan / proses terlebih dahulu untuk menghilangkan mikroorganisme yang ada didalam air. Perlakuan yang dapat diberikan yaitu pemberian desinfektan kedalam air yang akan dikonsumsi oleh penduduk tersebut. Cara lain yaitu dengan memanaskan air tersebut sebelum diminum hingga mencapai 1000 C atau mendidih selama 5 menit. Air yang mengandung mikroorganisme tersebut apabila langsung dikonsumsi maka akan menimbulkan penyakit misalnya sakit perut atau diare dan lainnya.

Air yang mengandung bakteri pathogen biasanya karena tercemar dari sumber pencemar yang ada didekat sarana air bersih yang dimiliki oleh penduduk. Biasanya yang dapat menjadi sumber pencemar antara lain Jamban Keluarga yang terlalu dekat dengan sarana air bersih, tempat pembuangan sampah dan kandang ternak. Hal lain yang berpotensi menyebabkan pencemaran pada sumber air yaitu konstruksi bangunan sarana air bersih yang digunakan oleh penduduk, sehingga perlu adanya penelitian berikutnya yang dapat menindak lanjuti penelitian ini untuk meneliti penyebab dari pencemaran yang terjadi pada air bersih yang digunakan oleh Penduduk di Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.     Kualitas air bersih dari 3 buah Sumur Gali semuanya memenuhi syarat tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan 8 buah Sumur Pompa Tangan serta 3 buah Penampungan Air Hujan juga semuanya memenuhi syarat yaitu tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa berdasarkan parameter fisik.
2.     Kualitas air bersih dari 3 buah Sumur Gali semaunya memenuhi syarat dengan pH 7,0 dan 8 buah Sumur Pompa Tangan dengan pH 7,0 serta 3 buah Penampungan Air Hujan semuanya memenuhi syarat dengan pH anatara 6,7 – 7,0 berdasarkan parameter kimia .
3.     Kualitas Air Bersih dari 3 buah Sumur Gali yang memenuhi syarat 1 sumur gali (SGL) berdasarkan MPN Coliform yaitu 50/100 ml sampel air dan, 2 buah SGL tidak memenuhi syarat yaitu MPN Coliform diatas 50/100 ml smapel air. Sumur Pompa Tangan (SPT) dari 8 buah, 6 SPT yang memenuhi syarat yaitu 50/100 ml sampel air 2dan 2 SPT tidk memenuhi syarat yaitu MPN Coliform diatas 50/100 ml sampel air serta 3 buah Perlindungan Mata Air (PAH) semuanya memenuhi syarat berdasarkan parameter mikrobiologi (MPN Coliform).

Saran
1.     Air bersih yang telah memenuhi syarat kualitas air berdasarkan parameter fisik, warna, bau, rasa, dan kimia serta pH sebaiknya tetap dijaga agar tidak tercemar dengan memperbaiki pasilitas yang ada dan lingkungan sekitarnya.
2.     Air yang berasal dari sarana air bersih yang digunakan oleh masyarakat dan tidak memenuhi syarat kualitas air bersih yang digunakan oleh penduduk berdasarkan parameter mikrobiologi MPN Coliform sebaiknya tidak mengkonsumsi air tersebut sebelum adanya perlakuan atau pemberian bahan yang bisa membunuh bakteri pathogen tersebut dengan desinfeksi atau memasak jika ingin mengkonsumsi air tersebut.
3.     Perlu adanya pemantauan dan penyuluhan secara berkala dari petugas kesehatan sehingga masyarakat dapat mengetahui bahaya meminum air yang terkontaminasi oleh bakteri pathogen dan dapat mengetahui tindakan apa yang dapat diberikan untuk air yang mengandung bakteri.
4.     Perlu adanya kerja sama antara petugas kesehatan dan pemerintah setempat serta instansi terkait untuk meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya air bersih dalam kehidupan dan bahaya air yang mengandung bahan-bahan yang berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA
Azwar Azrul, 2002, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara Sumber Wijaya, Jakarta
Arya Wardana, Wisnu& 2001 DampaK Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi Yogyakarta
Darpito, Hening dkk, 1995, Petunjuk Pemakaian Alat, Paket A Sistem Tabung Ganda Untuk Pemeriksaan Bakteriologi, Dirjen PPM & PLP, Jakarta
Daud, Anwar. 2003. Penyediaan Air Bersih (PAB). Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM Universitas Hasanuddin Makassar.
Depkes RI. 1990. Penmenkes No. 416 Tentang Ppersyaratan Kualitas Air Bersih. Jakarta
Depkes RI, 1996 Pelatihan Pengambilan Sampel dan Inspeksi Sanitasi Bagi Petugas Puskesmas, Jakarta
Depkes RI, 1991 Pedoman Teknis Perbaikan Kualitas Air bagi Petugas PKL, Direktorat Jenderal PPM & PLP, Jakarta.
Depkes, RI. 2004, Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar.
Djaffar Hasyim, 2000, Penyediaan Air Bersih, FKM-UNHAS, Makassar
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta
Entjang, I. 1992, Ilmu Kesehatan Masyarakat, PT. Citra Aditya Bakti, Jakarta
Fandiaz, Srikandi. 1992. Populasi Air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta
Hadi,Anwar, 2007, Prinsip Pengambilan Sampel Lingkungan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Kusnaedi. 2002. Mengelola Air Untuk Air Minum. Rineka Cipta, Jakarta.
Mukono, H.J, 2000, Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Airlangga University Press, Surabaya
Notoatmodjo, S.1993 . Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
Prodjokusumo,H, 1995, Air, Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan Menurut Ajaran Islam, Majelis Ulama Indonesia, Jakarta
Pamiati, Pusposutarjo, 1983. Pemeriksaan Air secara Bakteriologis, Baku Teknik Keselamatan Lingkungan, Yogysksrta
Rahma, 2007, Study Kualitas Air Sumur Masyarakat di Kelurahan Mapala Kecamatan Rappocini Kota Makassar, Skripsi, STIK Makassar
Slamet, J.S. 2002. Kesehatan Lingkungan, Gajah Mada University Press, Bandung
Sugiono, 2002 Statistika Untuk Penelitian, CV Alfabeta, Bandung
Sugiono. 2001. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.
Suripan, 2004, Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Penerbit Andi. Yogyakarta.
Sutrisno, Totok C, dkk, . Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta. Jakarta.
Sanropie, Djasio, dkk, 1984, Pedoman Bidang Studi Penyediaan Air Bersih Akademi Penilik Kesehatan Teknologi Sanitasi, Pusat Pendidikan & Latihan Pegawai Depkes, Jakarta
Sukamto, 1985, Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Perbaikan sarana Air Bersih Inpres Kesehatan, Dirjen PPM &PLP, Jakarta
Thamrin, H.MOh.Husni dkk, 2010, Panduan Kerja Penyelesaian Study, Badan Pengelola Riset, Seminar dan Pelatihan FKM-UVRI, Makassar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar